Sepenggal Kisah Masa Putih Biru

 


SMP Negeri Kedungmakmur adalah sekolah menengah negeri satu-satunya di Kecamatan tersebut kala itu. Terletak diatas bukit sekitar 5 km dari pusat Kecamatan yang membawahi  23 desa , jauh dari perumahan warga dan dikelilingi area persawahan membuat sekolah tersebut jauh dari keramaian.

“Pengumuman.. pengumuman ... berikut jadwal membawa air ke sekolah minggu depan “

“ Senin dan Rabu kelas 1,Selasa dan Kamis kelas 2, Jumat dan Sabtu kelas 3 , dan satu lagi minimal 3 liter “

Pengeras suara bernyanyi nyaring pada Sabtu siang menjelang pulang sekolah. Musim kemarau menyebabkan sekolah mengalami kesulitan air  sehingga para murid  seringkali diminta membawa air ke sekolah untuk digunakan mengisi bak kamar mandi.

Musim kemarau pertanda musim tanaman krai atau pare belut yaitu sayuran yang memiliki bentuk seperti mentimun namun lebih pendek dengan daging yang tebal. Krai tumbuh subur di area persawahan sekitar sekolah memberi  kisah tersendiri bagi kami.

“Ssstt... Anhar siap-siap istirahat langsung kumpul belakang sekolah” kata Sasmi 

“Buat apa “?

“Krai di sawah kakeknya Prigi sudah waktunya ”

“Yakin punya kakeknya Prigi “?

“Katanya begitu, percaya sajalah kalau dia bohong  pasrah saja paling juga masih sawah tetangganya, sekolah ini kan satu desa dengan rumahnya”.

“Siapa saja yang ikut”?

“Kita bertiga ditambah Agis sama Anam dari kelas B”

“Oke ini aku sudah bawa tas keresek “ kata Anhar

Sasmi hanya mengangkat jempolnya tanda setuju. Akhirnya begitu bel istirahat berbunyi bergegaslah mereka berlima ke belakang sekolah, setelah semua berkumpul dengan semangat empat lima mereka menuju area persawahan tersebut tanpa harus bersusah payah.

“Ayo berpencar, jangan semua mengambil yang di petak ini, Anhar sama Sasmi ke Barat terus Agis dan Anam di selatan aku yang di bagian sini saja ya” seru Prigi.

“Sasmi perasaan aku kok tidak enak ya”

“Sudah cepat ambil krainya dan kembali ke sekolah”

Setelah tas keresek penuh mereka bermaksud segera kembali ke sekolah tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika balik badan ternyata pak Farid sudah ada di depannya, sedangkan Prigi, Agis dan Anam terlihat malah tertawa ngakak dibalik kaca kelas. Sudah pasti kuping menjadi sasaran tembak pertama pak Farid sebelum akhirnya mereka sampai di ruang BK dengan krai satu tas keresek menjadi barang bukti. Setelah mendapatkan ceramah yang panjang lebar dan berjanji tidak mengulangi lagi perbuatannya mereka diperbolehkan kembali ke kelas.

Meski dengan perasaan dongkol Anhar dan Sasmi akhirnya tetap berpesta krai dengan semua temannya karena jika ditambah dari hasil Agis dan Anam serta Prigi cukup buat camilan satu kelas. Menurut kami waktu itu camilan krai di musim kemarau sangat enak, mungkin karena udara yang panas dan masih menggunakan pupuk kandang belum banyak menggunakan pestisida meski langsung dimakan hanya dengan di lap menggunakan baju seragam yang menempel di badan tanpa dicuci.

Beberapa hari kemudian hampir separuh kelas mengalami batuk tepatnya hari Senin dan sialnya pelajaran pertama adalah fisika dengan pak Farid sebagai pengajarnya. 

“Makanya kalau makan krai itu dicuci dahulu dan jangan lupa meminta izin dahulu dengan yang punya” itulah kalimat pembuka pelajaran fisika ketika acara berdoa selesai.

Supaya tidak berlarut-larut masalahnya Prigi ke depan kelas dan menjelaskan kalau sawah tempat mengambil krai kemarin adalah milik kakeknya. Akhirnya pembelajaran kembali normal meski dalam hati kami meragukan pengakuan Prigi. 

Aku sedang di beranda dan mendengar lagu tentang si kancil yang diputar tetangga sebelah rumah, membuatku senyum-senyum sendiri mengingat masa itu.



Oleh :

Dayani Hamida 

Komentar