Minat membaca di Indonesia rendah! Menurut UNESCO indeks minat membaca orang Indonesia adalah 0,001% atau dari 1.000 orang hanya ada 1 orang yang rajin membaca. Menakjubkan bukan? Padahal dunia semakin berkembang luas, termasuk informasi digital. Namun, perkembangan itu justru membuat masyarakat terutama generasi muda menghabiskan waktu dengan menggulir layar ponsel.
Mereka berselancar di berbagai media sosial, membuat status setiap waktu, dari hanya sekedar foto sampai joget mengikuti musik yang lagi tren. Dan buku terabaikan berselimut debu. Padahal membaca adalah jembatan untuk memperluas wawasan, menambah pengetahuan, dan membentuk pola berpikir kritis.
Penyebab Minat Membaca Rendah
1. Keterbatasan Sarana
Perpusatakaan daerah dan toko buku hanya tersedia sampai di tingkat kabupaten. Sedangkan perpustakaan sekolah kurang memadai. Jumlah buku terbatas dan kurang variasi. Tidak ada pasar buku murah, buku bekas, atau persewaan buku di pedesaan. Dan jaringan internet tidak stabil membuat akses ke perpustakaan digital terhambat.
2. Daya Beli Masyarakat Rendah
Menurut data BPS per Mei 2025, kelompok masyarakat kelas atas hanya 0,46% atau sekitar 1,49 juta jiwa. Sehingga sebagian besar pendapatan masyarakat dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan pokok saja. Harga buku dianggap cukup mahal oleh masyarakat.
3. Kemajuan Teknologi
Adanya internet, gadget, dan media sosial justru mengubah gaya hidup masyarakat dalam mengisi waktu senggang. Dunia maya yang menyediakan gim, video, film, dan berbagai media sosial menjadi lebih menarik daripada membaca buku.
4. Budaya Membaca
Tidak banyak orang yang tumbuh di lingkungan suka membaca, baik di rumah atau di sekolah. Kesukaan membaca sering dianggap tidak keren dan tidak dianggap penting. Bahkan menjadi bahan ejekan, label “kutu buku” diberikan bagi mereka yang suka membaca.
Cara Meningkatkan Minat Membaca
1. Memperbarui Sarana
Menyediakan perpustakaan yang memadai baik perpustakaan daerah maupun perpustakaan di sekolah atau menyediakan perpustakaan keliling. Meningkatkan akses internet sehingga perpusnas digital dapat diakses dengan mudah.
2. Meningkatkan Budaya Membaca
Melibatkan peran bersama antara keluarga dan masyarakat. Kebiasaan mendongeng atau membacakan buku sebelum tidur untuk anak-anak dapat membentuk minat membaca sejak dini. Masyarakat dapat mengadakan lomba mendongeng atau membaca puisi dalam kegiatan bersih desa dan peringatan hari kemerdekaan.
3. Memaksimalkan Peran Sekolah
Sekolah dapat membuat perpustakaan yang memadai, nyaman, dan menyediakan buku yang menarik dan bervariasi sehingga membuat siswa betah membaca buku. Sekolah juga bisa membuat kegiatan ektrakulikuler yang terkait dengan kegiatan membaca, seperti diskusi tentang buku, membaca bersama, atau membuat klub buku.
4. Kolaborasi Pemerintah, Penerbit dan Penulis
Pemerintah dapat memberikan kemudahan perizinan bagi penerbit, insentif pajak, atau tersedianya bahan baku murah. Penerbit menggelar festival buku, atau mempertemukan penulis dengan pembaca untuk diskusi, membuat buku-buku baru yang menarik.
5. Memanfaatkan Kemajuan Teknologi
Kemajuan teknologi adalah dua sisi mata uang, ia bisa menjadi penyebab rendahnya minat membaca, tetapi juga bisa digunakan untuk meningkatkan minat membaca. Dengan teknologi, perpustakaan daerah dan sekolah bisa dikembangkan menjadi perpustakaan digital. Selain itu pengembangan aplikasi digital yang menawarkan buku elektronik yang mudah diakses dan inovatif juga bisa meningkatkan minat baca.
#15DaysNote #15DN #Day2

Komentar
Posting Komentar