Foto: koleksi pribadi
Masa meranggas pohon jati sudah berakhir akan berganti dengan munculnya musim penghujan, itu pertanda musim panen enthung akan segera tiba. Bagi masyarakat di sekitar hutan jati, pasti tidak asing dengan enthung. Bahan makanan yang banyak mengandung gizi seperti protein, vitamin, mineral, lemak, dan karbohidrat.
Enthung dapat diolah menjadi berbagai jenis masakan yang enak dan menggugah selera seperti digoreng, dibuat tumis, sayur balado atau dibuat rempeyek bahkan di buat sate. Bertambah nikmat jika dikombinasikan dengan masakan yang lain seperti sayur lodeh dan nasi jagung. Masakan enthung selain untuk konsumsi sendiri juga dijual di warung sebagai barang dagangan. Tetapi masakan enthung tidak dijual di sembarang warung. Hanya di warung di sekitar hutan jati saja.
Enthung tidak hanya dijual dalam bentuk masakan, tetapi juga dijual sebagai bahan mentah. Harga enthung bervariasi di setiap daerah. Di wilayah Bojonegoro dan Blora harga enthung berkisar Rp60.000,00 per kilogram tetapi di wilayah Saradan, Madiun bahkan pernah mencapai Rp100.000,00 per kilogram.
Sayangnya enthung tidak bertahan lama dan tidak tersedia sepanjang tahun. Enthung hanya bertahan 12 jam sebelum membusuk dan hanya dapat diperoleh setahun sekali, yaitu pada saat akhir musim kemarau dan beralih ke musim penghujan. Tepatnya setiap akhir bulan November sampai dengan awal Januari. Pada saat peralihan musim, biasanya ulat memakan daun jati dan kemudian berubah menjadi kepompong berwarna coklat tua mengkilap. Yah, enthung adalah nama yang diberikan untuk kepompong ulat pohon jati oleh masyarakat di sekitar hutan jati Kabupaten Bojonegoro, Blora, Ngawi dan sekitarnya.
Ulat pohon jati hanya makan daun jati atau herbivora. Ulat pohon jati, juga dikenal sebagai ngengat jati (Hyblaea puera) dan dianggap hama pada tanaman jati. Sehingga masyarakat leluasa untuk mengambil enthung di hutan-hutan milik perhutani yang berada di sekitar tempat mereka. Penasaran dengan nikmatnya masakan enthung? Cobain yuk…

Komentar
Posting Komentar