Foto: koleksi pribadi
Malam ini begitu panas, maklum sudah beberapa hari kota ini tidak diguyur hujan, seperti panas jiwaku yang marah karena kepergianmu. Seharian penuh diriku mencari keberadaanmu, tetapi tidak kunjung bertemu. Ke mana lagi akan mencarimu setelah rumah indah kita dihilangkan tanpa bekas oleh penguasa uang. Tempat bermain kita sudah rata dengan tanah dan aneka rupa peralatan berat hilir mudik memuntahkan isinya. Rumah kita sudah menjelma menjadi bangunan kokoh bertingkat dan bangunan megah lainnya yang gambarnya tersaji di televisi hampir setiap hari.
“Sayang, akan kemana kita hari ini?”
“Aku belum tahu, Mas.”
“Sayang, kita tidak bisa seperti ini terus. Kita harus bisa mendapatkan tempat tinggal baru.”
“Siapa juga yang tidak ingin mempunyai tempat tinggal sendiri, Mas.”
“Aku ingin mempunyai keturunan dan sebelum terjadi perkawinan kita harus mempunyai tempat tinggal.”
“Aku setuju Mas, sebaiknya mulai sekarang kita mencarinya.”
“Oke, kita berpencar ya. Nanti sore bertemu kembali di tempat ini, Sayang.”
*****
Pagi tadi kita sepakat untuk mencari tempat tinggal yang baru setelah membereskan semua barang yang kita miliki. Namun, dirimu tiada kunjung kembali bahkan setelah hari beranjak malam. Overthinking memenuhi benakku, apakah dirimu juga memilih menghilang meninggalkan diriku? Aku kumpulkan semua keberanian untuk menyusuri jalan sebuah perumahan megah yang dijaga oleh orang-orang berseragam gagah.
Rupanya keberuntungan belum berpihak kepadaku, di sebuah rumah yang halamannya luas masih ada keramaian. Oh, buka puasa bersama dengan anak-anak panti asuhan. Alangkah bahagianya mereka berkumpul dengan orang-orang yang disayang dan menjalankan ibadah bersama. Pasti buah kurma yang berasal dari negara Timur Tengah tersaji di sana. Semoga kurma yang disajikan tidak berasal dari negara yang suka melancarkan bom ke negara tetangga itu.
Memilih menunggu di sebuah rumah tak berpenghuni di depan rumah yang masih ramai adalah pilihanku. Tiada terasa tertutuplah mataku dan terbangun ketika udara dingin menusuk kulitku yang tanpa selimut. Haus dan lapar pasti karena perutku terisi makanan sudah seminggu yang lalu. Kala itu kita makan ayam sambil bercanda.
“Sayang, ayo kesini aku dapat makanan.”
“Wah, dua ekor ayam kelihatannya enak, Mas.”
“Iya, enak sekali cepat dimakan.”
“Ini dapat dari mana, Mas?”
“Dari rumah yang berada di ujung kompleks, yang mempunyai usaha rumah makan dan peternakan besar. Sudahlah segera makan, kamu cerewet sekali.”
“Iya maaf.”
“Sayang, kamu tahu tidak bedanya cinta dan benci.”
“Kalau cinta selalu rindu ingin bertemu, tetapi kalau benci tidak mau bertemu.”
“Nih, dengar ya, Sayang. Kalau cinta kelihatan lidahnya tetapi kalau benci kelihatan giginya.”
“Mas, bercanda terus ini.”
“Loh, benar Sayang. Coba kamu perhatikan mulut orang-orang kalau lagi bicara benci atau cinta pasti itu yang kelihatan.”
*****
Perlahan-lahan kubawa badan ini menuju rumah depan dengan harapan masih tersisa makanan yang dapat mengisi perutku. Huh, sudah dibersihkan bahkan tanpa jejak. Sepertinya tuan rumah membayar mahal pembantunya sehingga tengah malam begini masih rela bekerja untuk membersihkan sisa pesta yang habis dilaksanakan. Perlahan kudengar suara cicit beberapa tikus. Ah, rupanya mereka sedang mengerubuti sekotak kurma yang terletak di atas meja teras.
"Makanlah sampai kenyang tikus, nanti giliranku yang makan dirimu," batinku.
Segera setelah kotak kurma itu kosong, aku sergap mereka untuk dijadikan santap malam. Baru saja tikus yang kelima selesai aku telan, sayup-sayup terdengar langkah kaki menuju ke teras, bergegas diriku menyelinap ke dalam garasi rumah dan bersembunyi diantara mobil yang berderet panjang. Setelah pergulatan batin akhirnya kuputuskan untuk menjadikan tempat ini sebagai rumah kita sementara sampai bertemu denganmu.
Ramai orang-orang berteriak membuat diriku terbangun dari tidur, tetapi saat membuka mata ini tampak beberapa orang berseragam pemadam kebakaran dengan segala peralatan di tangannya menghampiri diriku. Sementara di belakangnya terdapat beberapa lagi yang memakai name tag dan membawa kamera yang dipanggul kemanapun dia melangkah, gadis cantik membawa mikrofon menemaninya.
Oh … aku ingat--reporter. Apakah ini jalan yang ditunjukkan oleh-Nya agar diriku bertemu denganmu? Mungkin dengan masuk dalam berita sebuah televisi atau koran dirimu dapat mendengar keadaan diriku saat ini. Kubiarkan petugas itu menjalankan pekerjaannya, memasukkan diriku ke dalam karung plastik dan membawa diriku entah ke mana yang jelas jauh dari keramaian penduduk.
“Sebuah ular piton berukuran empat meter ditemukan di sebuah garasi mobil seorang warga di perumahan mewah. Pemilik rumah yang bernama Nanang Wira Atmadja bersama sopir pribadinya menemukannya di bawah mobil ketika akan berangkat ke kantor dan melaporkan kejadian tersebut kepada ketua RT setempat. Pak RT akhirnya meneruskan laporan tersebut kepada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP). Pihak DKPP menjelaskan evakuasi terhadap ular piton dan hewan liar lainnya bukan hanya menjaga keamanan masyarakat, tetapi juga mengembalikan ular ke dalam habitatnya. Lebih lanjut hewan liar tersebut selanjutnya diserahkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) hingga koordinasi dengan komunitas pencinta satwa. Demikian kabar siang, saya Indah Savitri melaporkan dari kota Antah Berantah.”
Sayang berita tentang ditangkapnya diriku sudah beredar di televisi. Semoga dirimu mendengar kabar siang tersebut dan kita bersama lagi di dunia Margasatwa, kekasihku.
Oleh: Dayani Hamida

Komentar
Posting Komentar