POV atau Point of View

Foto: koleksi pribadi

Apakah POV (Point of View) atau sudut pandang itu? Sebagai penulis pasti tidak asing dengan istilah tersebut. Karena POV menentukan cara penulis dalam menceritakan kisahnya. Dalam sebuah cerita, baik fiksi maupun non fiksi biasanya menggunakan salah satu dari POV tersebut. Jadi POV adalah sudut pandang yang digunakan oleh penulis dalam menceritakan kisahnya atau “mata”yang digunakan untuk bercerita. Sedangkan pembaca adalah karakter yang berada di belakang mata tokoh, melihat apa yang ia pikirkan dan memikirkan apa yang dipikirkan tokoh.

Macam-macam POV

1. POV 1 (satu)

Disebut POV satu jika aku sebagai penutur. POV satu populer digunakan dalam tulisan nonfiksi, khususnya biografi dan memoar. Ciri khas POV satu adalah menggunakan kata ganti aku, atau saya dalam menceritakan kisah dari sudut pandang penutur.

Dalam menulis dengan POV satu, penutur dapat mengendalikan sepenuhnya tokoh utama, jadi sebaiknya gunakan POV satu apabila ingin mengekplorasi diri sendiri, karena emosi akan terasa lebih kuat apalagi kalau inspirasi berasal dari pengalaman pribadi.

Kelebihan menggunakan POV satu

1) Terasa lebih natural bagi kebanyakan penutur, karena merupakan cara bercerita tentang pengalaman pribadi.

2) Lebih intim dan langsung, sehingga menciptakan kedekatan antara pembaca dan tokoh.

Kekurangan menggunakan POV satu

1) Tokoh aku tidak bisa membaca isi hati dan pikiran orang kain.

2) Tokoh aku tidak bisa menceritakan hal-hal yang tidak bisa dialami, diketahui, dilihat atau dirasakan  oleh inderanya, kecuali melalui percakapan. Beberapa penutur menggunakan POV satu untuk tiga orang dalam cerita atau lebih, untuk mempermudah eksplorasi tokoh secara bergantian.

3) Penggunaan POV satu sering menyebabkan kelebihan kalimat yang diawali dengan kata “aku”.

4) Akan menimbulkan kesulitan menggambarkan tokoh utama karena akan terlihat terlalu memikirkan diri sendiri.

Untuk menghindari kelebihan penggunaan kata “aku”, usahakan di dalam satu paragraf hanya 1-3 saja kata “aku”. 

Contoh: 

Aku mendengar suara pintu didobrak dan langkah kaki mendekat ke arahku, saat aku berusaha melarikan diri ke dalam kamar, aku mendadak takut dan tubuhku menjadi lemas.

Dapat diubah menjadi:

Terdengar suara pintu didobrak dan langkah kaki mendekat, tetapi saat aku tengah berjuang melarikan diri ke dalam kamar tiba-tiba rasa takut menyeruak hingga membuat tubuhku lemas.

Dengan mengeksplorasi pancaindra, tulisan akan menjadi lebih detail sehingga pembaca mampu membayangkan suasana/ situasi dengan jelas.

2. POV 2 (dua)    

Disebut POV dua jika tokoh sebagai penutur. Dalam kisahnya penutur menggunakan kata ganti kamu atau kau, yang menjadikan pembaca sebagai tokoh utamanya. POV dua jarang digunakan karena berpotensi membingungkan dan kadang malah teledor. Jika ingin menggunakan POV dua harus cermat dan berhati-hati.

3. POV 3 (tiga)

Disebut POV tiga jika narator sebagai penutur (tokoh sebagai orang ketiga). Dalam POV tiga penutur bebas mengeksplorasi tokoh. Namun, untuk tujuan tertentu penutur akan menyembunyikan si tokoh. Saat menggunakan POV tiga, penutur bisa memberikan petunjuk untuk menyesatkan dugaan pembaca, penuturan cerita diletakkan diakhir kisah.

Dalam POV tiga sendiri dibedakan menjadi tiga, yaitu

POV tiga terbatas: Pembaca adalah teman si tokoh yang paling akrab dan cukup dekat sehingga bisa membaca pikiran tokohnya.

POV tiga objektif: Pembaca berdiri di luar jendela, mengamati para tokoh. Cerita tidak dikisahkan melalui perspektif langsung, melainkan dari luar seakan-akan sedang menonton film.

POV tiga serbatahu: Pembaca adalah sosok tak kasatmata yang bisa menghadiri semua peristiwa yang dialami semua tokoh (termasuk di dalam kepala tokoh) tetapi hanya sebagai pengamat dan tidak ikut berbagi pemikiran atau perasaan mereka.

Semoga tulisan ini dapat membantu  kalian yang sedang belajar menulis. Tetap semangat, jangan bosan untuk terus belajar mengasah kemampuan.


Oleh: Dayani Hamida



Komentar