Pernah menerima konsekuensi di sekolah? Aku? Pernah dong. Bagiku menerima konsekuensi bukan sebuah aib, namanya juga berproses. Dan tidak ada salahnya juga menjadikan konsekuensi sebagai sebuah proses pembelajaran. Meski penerapan konsekuensi di sekolah menjadi pro kontra, tetapi aku termasuk orang yang setuju.
Saat aku masih sekolah dasar, tepatnya kelas lima, jemu melanda. Predikat anak baik dan pintar yang melekat, terasa membelenggu. Memantik jiwa bandelku meronta. Keinginan untuk mencoba hal-hal baru bermunculan tanpa kendali--meledak. Akhirnya percobaan pun dimulai, pertama-tama adalah tidak mengerjakan tugas sekolah. Kemudian berlanjut dengan menyontek saat ulangan, sampai beberapa kali tidak mengikuti upacara hari besar nasional yang biasanya diadakan di luar sekolah.
Berhubung pihak sekolah mengenal baik orang tua yang notabene berprofesi sebagai guru, pelanggaran-pelanggaran tersebut tidak memberikan konsekuensi bagiku. Hingga saat itu tiba, pergantian kepala sekolah dan beberapa guru. Apes. Kepala sekolah yang baru adalah orang yang biasa aku sebut bapak di rumah.
Mulailah konsekuensi aku terima, mulai dari menulis permohonan maaf beberapa lembar, mengerjakan soal di papan tulis, menyalin pelajaran, atau membersihkan kelas setelah jam pelajaran usai. Dan puncaknya pagi itu, kepala seolah masuk kelas dengan membawa selembar kertas. Bergema suara tegas di seluruh ruangan, “Bagi yang disebut namanya, harap maju ke depan kelas dan berdiri hingga mata pelajaran kedua selesai. Suntoro, Ridwan Malik, Siti Zubaidah, dan … Dayani Hamida.”
Jedar! Dari yang awalnya menunduk, aku langsung mengangkat kepala. Menatap kepala sekolah dan wali kelas, seolah mengucap sebuah kalimat, “oke, siapa takut?” Namun, tahukah kalian, hati dan pikiranku melantunkan kegembiraan. Entahlah, saat itu aku tidak mengerti.
Setelah dewasa, aku paham kenapa waktu itu justru gembira. Karena aku merasa dihargai bukan sebagai anaknya kepala sekolah, melainkan sebagai Dayani Hamida--seorang murid yang melanggar peraturan sekolah. Diperlakukan adil, tidak dibedakan dengan murid lain. Aku merasa melihat teladan, sekaligus menjadi pemberi teladan itu sendiri--bangga.
Konsekuensi adalah bentuk tanggung jawab terhadap pelanggaran atau kesalahan yang telah dilakukan. Berdampak juga terhadap pola pikir, mengubah perilaku positif, melatih disiplin, kejujuran, dan banyak yang lainnya. Konsekuensi bisa diberikan dari yang ringan sampai yang berat tergantung dari pelanggaran yang dilakukan.
Namun demikian, bentuk konsekuensi sebaiknya tidak dilakukan dengan kalimat kasar atau kekerasan fisik yang mengarah pada perundungan. Meskipun konsekuensi dilakukan untuk tujuan yang baik, alasan pemberiannya juga harus jelas, agar tidak menimbulkan kecemburuan. Dipikirkan dengan matang dan dilakukan dengan tepat untuk dapat memberikan dampak yang baik.
#15DaysNote #15DN #Day1

Komentar
Posting Komentar